Kamis, 22 November 2012

Makna Halal Bi Halal

"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat penghianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik". (QS. 5. Al-Maidah : 13)

Sukses dan berbobotnya puasa yang kita kerjakan tergantung kepada sikap, perilaku dan perbuatan kita untuk masa mendatang. Setelah lebaran ini, ada tanda-tanda dan ciri-ciri yang menunjukan puasa kita berhasil atau tidak.

Suatu kekeliruan yang fatal apabila setelah kita melakukan puasa selama sebulan, ketaqwaan kita kepada Allah SWT tidak mengalami kemajuan dan peningkatan, malahan mengalami kemunduran. Tanda-tanda bahwa kita telah sukses dalam melakukan ibadah puasa adalah di hari-hari mendatang semamkin banyak melaksanakan perintah-perintah Allah, dan semakin kecil dan sedikit kita melakukan dosa dan maksiat.

Secara individual akhlak kita semakin kerimah, budi pekerti semakin terpuji, misalnya sikap riya, dendam, iri hati, suka marah, dan lain-lain penyakit hati dan jiwa sudah berkurang, karena sikap itu dilarang selama berpuasa. Dalam ibadah Ramadhan kita rasakan perih laparnya si miskin dalam lingkaran tiada, kita rasakan duka laranya si yatim yang tiada tumpuan belaian kasih sayang.

Inilah yang mendidik kita untuk menengok ke kanan dan ke kiri sehingga menumbuhkan raya kasih sayang dalam membina ukhuwah islamiyah, sehingga rela memberi bantuan serta menggerakan rasa tolong menolong sesama umat manusia. Hidup ini meski bermasyarakat dan saling ketergantungan.

A. BERHASILKAN MERAIH PIALA TAQWAH?

Pertarungan iman dengan nafsu selama sebulan suntuk dalam Ramadhan kemarin, akan berakhir dengan kemenangan di satu pihak dan kekalahan di lain pihak. Apakah kita berhasil keluar sebagai sang juara atau tidak. Silahkan introspeksi masing-masing. Umat Islam di dalam puasa Ramadhan telah diperintah berpuasa dari makan, minum, dan menghentikan segala macam yang membatalkan puasa selama sebulan penuh. Apabila umat Islam selama satu bulan dilatih menghentikan yang halal di siang hari, menahan diri dari pembicaraan yang kotor, maka akan mudah menahan diri dari melakukan perbuatan terlarang di luar bulan Ramadhan.

Pada hari bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan membayar zakat fitrah untuk disampaikan kepada kaum fakir miskin yang berhak menerimanya.

Idul Fitri maksudnya "kembali kepada hari berbuka setelah melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan." Fitri berasal dari akar kata "Fatara" yang artinya "Berbuka."

Kemudian ucapan selamat hari raya Idul Fitri diiringi dengan ucapan: Minal 'Aaidin Walfaaiziina." Maksudnya adalah: "Semoga kita termassuk golongan yang kembali kepada ajaran "Aadiina" dan semoga kita termasuk golongan yang menang: "Faaiziina". Kembali kepada ajaran agama yang benar sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al-Qur'an, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw yang diajarkan di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad saw.

Kedua ucapan itu mengandung do'a dan harapan: Do'a, karena kita telah selamat menunaikan puasa selama bulan Ramadhan. Harapan, agar ibadah puasa Ramadhan yang telah mendidik umat Islam DISIPLIN melaksanakan ibadah, melatih diri bersikap sabar dan diakhiri membayar zakat fitrah untuk memberikan bantuan kepada kaum yang lemah supaya dipelihara dan dipertahankan dalam kesucian dan kebenarannya.

Kata Ied, akar katanya berarti "Kembali".

Kata Fitrah dapat diartikan dalam berbagai makna, sesuai dengan sasarannya, diantaranya: Fitrah berarti "asal kejadian". Fitrah berarti "kesucian". Fitrah yang berarti " Agama yang benar".

Dari arti kata Ied dan tiga kat Fitrah tersebut, maka ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri dapat dirumuskan dalam kalimat yang ringkas, yaitu: "Bagi umat yang telah mengakhiri puasa Ramadhan dan membayar zakat fitrah dia kembali kepada asal kejadiannya yang suci, dan menhikuti petunjuk agama Islam yang benar". Tujuan ibadah puasa Ramadhan dan membayar zakat fitrah adalah untuk mencari rasa bahagia dalam memberi dan menggembirakan sesama manusia, yaitu: "Melatih membiasakan diri kita mencari rasa bahagia dan menikmatinya".

Semua ini bila dilakukan dengan sadar dan ikhlas, dengan tidak mengharapkan sesuatu apapun melainkan keridhaan Allah SWT semata-mata, maka semua amal perbuatan itu akan memberikan bekas pada jiwa yang melakukan ibadah:

  1. Bekas, berupa ketenangan dan ketenteraman jiwa, yang senantiasa dapat dinikmati oleh tiap-tiap orang yang menjalankan ibadah dengan ikhlas dan khusyu', sebagai hasil dari rasa dekat dan akrab kepada Allah SWT.

  2. Bekas, berupa pembaharuan kesadaran kepada kewajiban kita yang harus dipenuhi terhadap sesama manusia, para anggota masyarakat yang lemah dan tak punya.

  3. Bekas, berupa tambahan kekuatan untuk memberantas sifat rakus, tamak, dan bakhil, berupa sifat a-sosial yang merusak kesejahteraan hidup bermasyarakat.

  4. Bekas, berupa tambahan kekuatan baru untuk mengendalikan hawa nafsu, itulah yang mengendalikan keinginan dan tingkah laku manusia.

Kepada umat Islam yang telah lulus melaksanakan ibadah puasa Ramadhan itu, hasil kemenangan yang diperoleh di bulan Ramadhan adalah: "Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)". (QS. 87. Al-A'la: 14). Yang dimaksud dengan menang adalah:

  1. Menang dari pelawanan terhadap dorongan hawa nafsu yang selalu ingin menindas manusia, karena perbuatan zalim aniaya.

  2. Menang terhadap mempertahankan kesucian diri dari merampas hak orang lain, karena menuntut komisi dalam transaksi dagang atau korupsi ketika diserahkan amanah.

  3. Menang terhadap perbuatan dosa lainnya, sehingga alam pikiran dan sukma jiwa kita bebas dari kotoran berfikir, dan bebas dari sifat iri dan dengki yang tergores di dalam hati.

Maka pantas dan wajarlah "Kemenangan umat Islam" merayakan Idul Fitri, tapi pertanyaan tadi belum terjawab, apakan saya berhak mendapatkan gelar taqwa atau tidak? Dalam kenyataannya banyak orang mukmin yang gagal dalam pertarungan, seperti apa yang disinyalir oleh Rasulullah saw, artinya: "Banyak orang puasa (yang gagal menaklukan nafsunya), keuntungan puasa hanya haus dan lapar semata". (HR. Thabrani dan Ibnu Umar) Namun sarana untuk memperoleh itu sudah disiapkan oleh Allah SWT yaitu:

  1. Menekuni pengamalan ibadah

  2. Mendalami isi Al-Qur'an serta berpegang teguh dengannya.

B. MAKNA HALAL BI HALAL

Halal bi halal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasana Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah "Keagamaan" yang hanya dikenal oleh masyarakay Indonesia. Istilah tersebut sering kali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenaran dari segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari bahwa tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.

Halal bi halal artinya secara logat (bahasa) ialah "Halal dibahas dengan halal atau halal timbulnya karena halal.

Tapi kenyataan dalam masyarakat Indinesia ialah: Hlal bi halal itu ialah: "Suatu pertemuan kekeluargaan yang penuh kesyukuran dan kemesraan, serta saling bermanfaat habis hari raya Idul Fitri".

Dalam kamus Arab - Indonesia oleh Prof. H. Mahmud Yunus, artinya: "dihalalkan, diizinkan" dan dalam kamus Arab - Indonesia - Inggris oleh Abd. Bin Nuh dan Umar Bakry, artinya: Mutual congratulation at the end of the fast". Artinya: "Saling memberi ucapan selamat habis melaksanakan puasa". Halal bi halal pertama kali diadakan oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta pada tahun 1946 dalam agresi Belanda.

C. ANJURAN BERMAAFAN

Tujuan utama acara halal bi halal ini tampak dalam prakteknya ialah: "Saling bermafan secara masal", demi utuhnya Ukhuwah Islamiyah, sehingga terwujud masyarakat yang penuh damai yang diridhai oleh Allah SWT. Jika demikian, berhalal bi halal merupakan suatu bentuk aktifitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjadinya keharmonisan hubungan.

Sehubungan dengan pemaaf ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya: "Ada tiga macam akhlak mulia di sisi Allah: 1. Engkau beri maaf orang yang zalim kepada engkau; 2. Engkau beri maaf orang yang bakhil kepada engkau, dan 3. Engkau hubungi orang yang memutuskan hubungan dengan engkau". (Al Khatib dari Anas)

D. NABI MEMBERI MAAF LAWAN DAN KAWAN

  1. Nabi memberi maaf seorang wanita Yahudi yang meracuninya.

  2. Nabi memberi maaf penduduk Thaif yang melempari Nabi dengan batu secara masal.

  3. Rasul memberi maaf penduduk Makkakh yang menganiayan Rasul bertahun-tahun ketika menaklukan Makkah, semua mereka dimaafkan dan dibebaskan, diberi amnesti dan abolisi.

  4. Pada suatu ketika, seorang lawan pernah mendatangi rumah beliau dengan membawa kotoran onta yang basah dan melemparkannya ke muka Nabi. Waktu itu, putri beliau, Siti Fatimah. Lari datang dari dapur dan memaki-maki pengecut itu. Rasulullah saw berkata kepada putrinya, "Tidak usah dimaki-maki, ambilkan sajalah air supaya kotoran yang mmercik ke muka ayah ini, dapat dibersihkan".

  5. Diceritakan pula, bahwa pada suatu hari, seorang wanita Yahudi datang menemui Nabi ke rumah dan mengucapkan salam yang bersifat olok-olokan: "Assamu 'alaikum", artinya: "Mudah-mudahan mampuslah engkau". Istri Nabi, Siti Aisya, yang pada waktu itu mendengar ucapan yang tidak wajar itu, dengan spontan berkata kepada wanita Yahudi itu: Hendaknya kamu sendirilah yang akan mampus". Mendengar reaksi Siti Aisya Rasulullah saw berkata kepada istrinya: "Allah tidak senang mendengar perkataan kasar yang mengandung nada dendam".

Menghayati kejadian ini, maka lagu "Tiada Maaf Bagimu", bukanlah lagunya seorang muslim, karena Al-Qur'an hanya menganjurkan agar memberi maaf kepada kawan dan lawan.

Firman Allah SWT: "... dan kemaafanmu itu, lebih dekat kepada taqwah...". (QS. 2. Al-Baqarah: 237)

Itulah peristiwa yang terjadi pada diri Nabi sendiri yang yang menunjukan kebesaran jiwanya pada sisi kawan dan lawan.

Sumber: Buletin Tabligh. Edisi 407, 13 Syawal 1433 H / 31 Agustus 2012 M.

Reaksi:

0 Komentari ya..:

Poskan Komentar